Minggu, 08 Mei 2011

PERBANDINGAN MANFAAT SUPRAPUBIK DENGAN TRANSURETRA PASCA BEDAH PADA HISTEREKTOMI RADIKAL KANKER SERVIKS

ANALISIS JURNAL

PERBANDINGAN MANFAAT SUPRAPUBIK DENGAN TRANSURETRA PASCA BEDAH PADA HISTEREKTOMI RADIKAL KANKER SERVIKS
Tugas Profesi Peminatan Kamar Operasi

Disusun Oleh:
Bekti Sulastyanto
04/175168/KU/11106

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2009
A. ANALISIS JURNAL
Jurnal ini membahas tentang manfaat kateter suprapubik dengan transuretra pascabedah pada histerektomi. Selanjutnya akan kita bahas tentang kanker serviks, histerektomi dan pemasangan kateter secara suprapubik dan transuretra.

1. Kanker Serviks
Kanker adalah istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan maligna dalam setiap bagian tubuh, pertumbuhan ini tidak bertujuan, bersifat parasit, dan berkembang dengan mengorbankan manusia sebagai hospesnya (Hinchliff, 1999). Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan epitel serviks uteri (Price dan Wilson, 1995).
Etiologi atau penyebab langsung karsinoma serviks belum diketahui. Ada bukti kuat kejadiannya mempunyai hubungan erat dengan sejumlah faktor ektrinsik, diantaranya yang penting: jarang ditemukan pada perawan (virgo), insidensi lebih tinggi pada mereka yang kawin daripada mereka yang tidak kawin, terutama pada gadis yang koitus (coitarce) dialami pada usia amat muda (< 16 tahun), insidensi meningkat dengan tingginya paritas, apalagi bila jarak persalinan terlamopau dekat, mereka dari golongan sosial ekonomi rendah (hygiene seksual yang jelek), aktivitas seksual yang berganti-ganti pasangan (promiskuitas), jarang diumpai pada masyarakat yang suaminya disunat (sirkumsisi), sering ditemukan pada wanita yang mengalami infeksi virus HPV(Human Papiloma Virus) tipe 16 atau 18 dan akhirnya kebiasaan merokok.
Patofisiologinya, Karsinoma servik timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (portio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ). Histologik antara epitel gepeng berlapis (squamous complek) dari portio dengan epitel kuboid/silindris pendek selapis bersilia dari endoserviks kanalis serviks. Pada awal pertumbuhannya kanker serviks tak memberi tanda-tandea dan keluhan. Pada pemeriksaan dengan spekulum, tampak sebagai portio yang erosif (metaplasi squamosa) yang fisiologik atau patologik.
Serviks yang normal secara alami mengalami proses metaplasi (erosio) akibat saling desak mendesaknya kedua jenis epitel yang melapisi. Dengan masuknya mutagen, portio yang erosif (metaplasia squamosa) yang semula faali/fisiologik dapat berubah menjadi patologik (displastik-diskariotik) melalui tingkatan NIS I, II, III dan KIS untuk akhirnya menjadi karsinoma invasif.

Gambaran klinik ditemukan dengan adanya keputihan merupakan gejala yang sering ditemukan. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam keadaan demikian pertumbuhan tumor menjadi ulseratif. Perdarahan yang dialami segara sehabis senggama merupakan gejala karsinoma serviks.
Perdarahan yang terjadi akibat terbukanya pembuluh darah makin lama akan lebih sering terjadi, juga diluar senggama (perdarahan spontan). Adanya perdarahan spontan pervaginam saat defekasi, perlu dicurigai kemungkinan adanya karsinoma seviks tingkat lanjut. Anemia akan menyertai sebagai akibat perdarahan pervaginam yang berulang. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf, memerlukan pembiusan umum untuk dapat melakukan pemeriksaan dalam yang cermat. Gejala lain yang dapat timbul ialah gejala-gejala yang disebabkan oleh metastasis jauh. Sebelum tingkat akhir, penderita meninggal akibat perdarahan yang eksesif, kegagalan faal ginjal akibat infiltrasi tumor ke ureter sebelum memasuki kandung kemih, yamng menyebabkan obstruksi total.
Pemeriksaan diagnostik dngan skrining dengan smear Papanicoloau (Pap Smear) harus mulai dilakukan pada wanita usia 18 tahun atau ketika sudah melakukan aktivitas seksual sebelum itu. Setelah tiga kali hasil pemerikasaan tahunan negative, wanita ini selanjutnya harus melakukan pemeriksaan Pap Smear setiap tiga tahun sekali sampai usia 65 tahun.
Ketika ditemukan displasia atau karsinoma insitu, harus dilakukan kolposkopi. Alat ini memberikan satu gambaran pembesaran dari serviks dan daerah abnormal yang mungkin langsung dapat dibiopsi. Kuretase endoserviks dilakuakn jika daerah jaringan abnormal tidak terlihat. Biopsi kerucut mengambil tonjolan jaringan serviks yang lebih untuk penelitian apakah ada atau tidak kanker invasif. Pemeriksaan ini juga direkomendasikan untuk mengevaluasi kandung kemih dan rectum yang meliputi sistoskopi, pielogram intravena (IVP), enema barium dan sigmoidoskopi. Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau scan CT abdomen/pelvis digunakan untuk menilai penyebaran lokal dara tumor dan/atau terkenanya nodus limfa regional.
Penatalaksanaan penyakit prainvasif ditangani dengan terapi lokal yang kadang-kadang memerlukan pengulangan. Terapi lokal meliputi biopsi, bedah beku, kauterisasi, terapi laser dan koinisasi. Histerektomi mungkin juga digunakan tergantung pada usia wanita, status anak dan/atau keinginan unutk sterilisasi.
Kanker serviks invasif secara umum ditangani dengan pembedahan atau terapi radiasi dan pada beberapa kasus menggunakan terapi kombinasi dari kedua jenis terapi yang disebutkan terdahulu. Histerektomi radikal adalah pengangkatan uterus, pelvis dan nodus limfa paraarortik salpingo-ooferektomi bilateral mungkin mungkin juga dilakukan pada pasien-pasien wanita pasca-menopause. Radioterapi batang ekstrenal akan ditambahkan bila nodus limfa positif terkena atau bila batas-batas pembedahan itu tegas.
Pada penyakit tahap awal atau tahap lanjut terapi radiasi utama menjanjikan pendekatan kuratif alternatif. Ini mungkin meliputi penggunaan radiasi batang eksternal atau implantasi intrakavitas yang bergantung pada luasnya tumor dan lokasi dari tumor tersebut.
Berulangnya kanker setempat diatasi dengan eksenterasi pelviks. Pendekatan pembedahan agresif seharusnya hanya dilakukan bila tidak ada metastase. Eksenterasi dapat dilakukan pada bagian anterior, posterior atau total tergantung pada organ yang diangkat ditambah dengan uterus dan jaringan limfa di sekitarnya. Pengangkatan kandung kemih, kolon rektosigmoid memerlukan kreativitas kolostomy dan saluran pembuangan ileus (ileostomi).
Kemoterapi kombinasi telah digunakan untuk penyakit metastase karena kombinasi dengan agen-agen dosis tunggal belum memberikan keuntungan yang memuaskan. Rata-rata respon tertinggi telah dikaitkan dengan regimen yang mengandung sisplatin (Platinol). Agen-agen lain yang sedang digunakan adalah meliputi bleomisin (Bleoxane), metrotreksat (Mexate), doksorubisin (Adriamycin), vincristine (Oncovin), dan mitomisin (Mutamycin). Pada beberapa regimen kecepatan rata-rata responnya telah cukup tinggi tetapi lamanya respon tersebut tidak dikaitkan dengan terbebas dari penyakit, sembuh dalam jangka waktu lama.ektomi radikal kanker serviks.
2. Histerektomi
Histerektomy adalah Pengangkatan uterus, vagina bagian atas dan parametrium.
Klasifikasi histerektomy :
- Histerektomy total ; pengangkatan uterus, servik dan ovarium
- Histerektomi abdominal total ((TAH) dan salpingo-ooforektomy : Pengangkatan tuba falopii dan ovarium.
- Histerektomy radikal (Wertheim) : pengangkatan vagina uterus, adneksa, vagina proksimal dan nodus limfe bilateral melalui insisi abdomen.
- Histerektomi radikal vagina (Schauta) : pengangkatan vagina uterus, adneksa dan vagina proksimal. (Radikal menunjukan bahwa suatu area ekstensif paravaginal, paraservikal, parametrial dan jaringan uterosakral diangkat bersama uterus)
Histerekomy dilakukan pada tindakan :
 Kanker
 Endometriosis
 pertumbuhan non maligna dalam uterus, servik dan adneksa
 Masalah-masalah relaksasi dan prolaps pelvis
 Cedera pada uterus yang tidak dapat diperbaiki.
 Pada kondisi maligna membutuhkan TAH dan salpingo-ooforektomy
a. Penatalaksanaan Praoperatif
Setengah bagian abdomen dan region pubis serta perineal dicukur dengan sangat cermat dan dibersihkan dengan sabun dan air (beberapa dokter bedah tidak menganjurkan pencukuran pasien). Traktus intestinal dan kandung kemih harus dikosongkan sebelum pasien dibawa ke ruang operasi untuk mencegah kontaminasi dan cidera yang tidak sengaja pada kandung kemih atau traktus intestinal. Enema dan pengirigasi antiseptic biasanya diharuskan pada malam hari sebelum hari pembedahan. pasien mendapat sedative. Medikasi praoperasi yang diberikan pada pagi hari pembedahan akan membantu pasien rileks.
b. Penatalaksanaan pascaoperatif
Prinsif-prinsif umum perawatan pascaoperatif untuk bedah abdomen diterapkan, dengan perhatian khusus diberikan pada sirkulasi perifer untuk mencegah tromboflebitis dan TVP (Perhatikan varicose, tingkatkan sirkulasi dengan latihan tungkai dan menggunakan stoking elastis). Risiko utama pada operasi adalah infeksi dan hemoragi. Selain itu juga mungkin terdapat masalah berkemih terutama setelah histerektomy vaginal.
Edema atau trauma saraf dapat menyebabkan kehilangan sementara tonus kandung kemih (atonia kandung kemih), dan dapat digunakan kateter indwelling. Selama pembedahan penanganan usus dapat menyebabkan ileus dan mengganggu fungsi usus.
3. Teknik Kateterisasi
Kateter Uretra Pada Wanita tidak seperti pada pria, teknik pemasangan kateter pada wanita jarang menjumpai kesulitan karena uretra wanita lebih pendek. Kesulitan yang sering dijumpai adalah pada saat mencari muara uretra karena terdapat stenosis muara uretra atau tertutupnya muara uretra oleh tumor uretra/tumor vagina/serviks. Untuk itu mungkin perlu dilakukan dilatasi dengan busi a boule terlebih dahulu.
Kateterisasi suprapubik adalah memasukkan kateter dengan membuat lubang pada buli-buli melalui insisi suprapubik dengan tujuan untuk mengeluarkan urine.


4. Patogenese Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih terjadi karena adanya gangguan keseimbangan antara mikroorganisme penyebab infeksi (uropatogen) sebagai agent dengan epitel saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh karena pertahanan tubuh dari host yang menurun ataupun karena virulensi agent meningkat (Purnomo,2000).
a. Infeksi Aesenden (Ascending Infection)
Kuman masuk melalui uretra adalah penyebab paling sering dari infeksi saluran kemih, baik pada pria maupun wanita. Pada keadaan normal bakteri dalam urine kandung kemih biasanya akan dikeluarkan sewaktu berkemih, tetapi keadaan ini tidak akan dijumpai bila ada urine stasis. Kuman yang berasal dari flora normal usus dan hidup secara komensal di dalam introitus vagina, preputium penis, kulit perineum dan sekitar anus cenderung lebih sering menyebabkan infeksi saluran kemih asenden.
Pubertas, hubungan seksual sebagaimana ada istilah “honeymoon cystitis” dan melahirkan juga mempertinggi resiko terjadinya infeksi saluran kemih pada wanita. Pada pria aktifitas seksual juga mempertinggi terjadi infeksi saluran kemih.
b. Melalui Aliran Darah (Hematogenous Spred)
Penyebaran melalui aliran darah jarang terjadi, pada kasus-kasus tuberkulosis, abses ginjal dan abses perinefrik. Sebaliknya bakteri sering masuk kealiran darah pada penderita infeksi akut, ginjal dan prostat. Bakteriemia karena komplikasi infeksi saluran kemih ini lebih sering terjadi pada penderita yang mengalami kelainan struktur dan fungsi saluran kemih.
c. Melalui Aliran Lymph (Lymphatogenous Spread)
Infeksi saluran kemih melalui lymph, walau sangat jarang namun dapat terjadi. Kemungkinan bakteri patogen masuk melalui aliran lymph rektum atau koloni menuju prostat atau kandung kemih, dapat juga melalui aliran lymph peri-uterina pada wanita.
d. Penyebaran Langsung dari Organ Sekitarnya
(Direct Extension From Other Organ)
Abses intra peritoneum khususnya yang disebabkan oleh peradangan usus halus, radang pelvik yang berat pada wanita, abses para vesikal dan fistel saluran kemih (khususnya fistel vesikovagina dan vesiko intestinal) dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dengan cara penyebaran langsung.







B. IMPLIKASI KEPERAWATAN
a. sebagai educator :
• memberikan informasi dan mengajarkan kepada pasien dan keluarga tentang perawatan kateter karena baik secara transuretra maupu suprapubik beresiko terjadinya infeksi
• memotivasi peningkatan asupan nutrisi debgai upaya menigkatkan proses penyembuhan
• menjelaskan kerugian & keuntungan pemasangan kateter baik secara transuretra maupun suprapubik
b. sebagai pelaksana :
• Dengan memperhatikan hasil penelitian tersebut, perawat / scrub nurse dapat memberikan masukan kepada ahli bedah berhubungan dengan penggunaan kateter suprapubik sebagi pilihan untuk membantu memulihkan fungsi berkemih secara cepat.
• Melakukan perawatan baik dressing kateter suprapubik maupun transuretra
• Untuk pasien dengan transuretra perlu perhatian karena pada saat pelepasan pada minggu pertama perawat harus mampu melatih pasien untuk berkemih
c. sebagai konselor :
• menjawab konsulan atau pertanyaan dari keluarga atau dari pasien
• memfasilitasi komunikasi pasien dengan dokter
d. sebagai peneliti
• dapat melakukan pemelitian yang serupa dengan melibatkan tim kesehatan lainnya







DAFTAR PUSTAKA

Gale, D., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi (Oncology Nursing Care Plans), EGC, Jakarta.
Furqon.2003.Evaluasi Biakan pada Penderita BPH setelah Pemasangan Kateter Menetap : Pertama Kali dan Berulang.USU Libary
Kampono , A.2005.Perbandingan Manfaat Kateter Suprapubik dengan Transuretra Pascabedah pada Histerektomi Radikal Kanker Serviks.Jurnal.Majalah Kedokteran Indonesia:55,Nomor,8 Agustus 2005
Mansjoer, A., 1999. Kapita Selekta Kedokteran, jilid 1, Media Aesculapius, Jakarta.
Wiknojosastro, H., 1999. Ilmu Kandungan, edisi kedua, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar